Tantangan Menulis di Pesantren Menulis

Tantangan Menulis di Pesantren Menulis

Ini tugas yang saya serahkan sebagai dalam kelas menulis nonfiksi bersama Mas Dwi Suewiknyo, Kelas yang benar-benar menantang, karena butuh usaha dan kesungguhan untuk menyerahkan tugas dan menerima kritikan ataupun arahan.

Harapan itu Tetap Ada

Sejak putra sulungku meninggal, anak keduaku menjadi anak tunggal. Dia selalu mengeluh kesepian, karena sebelumnya terbiasa ada Mas yang bisa diminta menemani, sekarang apa-apa selalu dilakukan sendiri. Berulangkali dia mengemukakan keinginannya untuk punya adik lagi. Aku dan suami juga ingin sekali memiliki anak lagi. Tetapi, Allah masih belum mengabulkannya.

Meski aku sudah berhenti menggunakan alat kontrasepsi, usaha kami untuk mempunyai keturunan lagi, belum juga membuahkan hasil. Menyesal juga dahulu memutuskan untuk memiliki hanya 2 anak saja, dengan alasan takut tidak bisa mengurusnya. Padahal setiap anak memiliki rezeki masing-masing. Tugas kita sebagai orang tua, hanya berikhtiar mengusahakannya.

Aku sudah berkonsultasi dengan beberapa dokter kandungan. Dan semua berkeyakinan, kondisiku masih memungkinkan untuk punya anak lagi, meski umurku memang sudah memasuki usia resti. Tetapi, mereka dan aku sendiri pun percaya, ada banyak fasilitas medis yang bisa meminimalisir resiko tadi. Mereka hanya memintaku bersabar dan berdoa sebagai upaya untuk mewujudkannya.

Sampai akhirnya, kabar gembira itu datang. Aku positif hamil lagi. Tidak terlalu yakin dengan hasil test pack yang memang selalu aku sediakan di rumah, aku memastikan hasilnya dengan mengunjungi dokter kandungan langananku. Dan beliau memastikan berita bahagia itu. Melalui USG, memang ada kehidupan baru di dalam rahimku.

Kami sekeluarga sangat bahagia menerima kabar kehamilanku. Putraku bahkan ikut bersujud syukur bersama kami, mensyukuri anugerah ini. Sambil mengelus perutku, dia meyakinkan kami akan menjadi Mas yang baik untuk adiknya yang akan lahir. Aku dan suami tersenyum mendengar janjinya dan ikut bergembira bersamanya.

Detik dan menit berlalu, hari berganti dan beberapa bulan terlewati tanpa gangguan terhadap kandunganku. Aku berusaha rutin memeriksakan kehamilanku setiap bulan, agar selalu bisa memantau perkembangannya. Aku teramat bahagia.

Tetapi beranjak bulan ketiga kehamilanku, muncul flek. Aku benar-benar khawatir dan langsung memeriksakannya. Seperti mendengar petir, saat penjelasan dokter menghampiri telingaku.
“Ibu, dari pemeriksaan USG memang hanya tampak kantung janin saja. Ini bisa saja karena alatnya yang memang belum mampu mendeteksi janin. Tapi bisa juga, memang janinnya yang tidak berkembang.” Dokter memberi penjelasan. Aku agak limbung mendengar kata-katanya.
“Trus, gimana, Dok?” Aku bertanya meminta pertimbangan.
“Kita tunggu saja selama dua Minggu. Mudah-mudahan ada perubahan. Sambil ibu mengkonsumsi obat penguat janin yang saya resepkan nanti.” Kalimat Dokter agak memberi kekuatan.

Namun, setelah di rumah, melihat flek yang semakin memekat, aku memutuskan mencari pendapat kedua dari dokter kandungan lain di kotaku. Tadinya aku ingin langsung memeriksakan diri. Tapi karena jadwal praktek nya pagi hari, aku terpaksa harus menunggu satu malam lagi.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dengan diantar suami, aku datang memeriksakan kehamilanku. Lagi-lagi dokter memberikan jawaban yang nyaris sama dengan penjelasan dokterku kemaren. Bahwa bisa jadi komputernya yang belum bisa mendeteksi janin, tetapi mungkin juga karena janinnya yang berhenti berkembang. Dan kali ini dokter mengatakan kuat dugaannya bahwa kasusku adalah blight ovum. Tetapi, beliau tetap menyarankan untuk menunggu selama minimal dua minggu untuk memastikan. Tetapi bila sebelum itu, aku mengalami pendarahan, aku disarankan untuk langsung datang. Karena artinya kandunganku tidak bisa diselamatkan dan harus dikuret agar tidak membahayakan diriku sendiri.

Mendengar semua penjelasan dokter, aku langsung menangis berkepanjangan di rumah. Namun akhirnya aku sadar, sepanjang apa pun aku menangis. Tak akan merubah keadaan. Jadi, ketika masuk waktu sholat Dzuhur, aku pasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Saat sujud terakhir, aku berdoa memohon kepastian, bila memang janin ini tidak akan berkembang, lebih cepat dikeluarkan, akan lebih baik buatku. Namun, bila memang masih rezekiku, semoga Allah terus menguatkan.

Selesai sholat, ternyata flek yang tadinya hanya berupa noda coklat kehitaman, sekarang menjadi seperti darah haid hari pertama. Tentu saja aku makin shock. Aku telepon suami dan memintanya segera pulang.
Sambil memeluk dan menguatkan aku, suami menanyakan tindakan yang akan kami ambil selanjutnya.
“Jadi, gimana? Apa memang sudah pasti harus dikeluarkan?” Suamiku bertanya hati-hati.
“Sepertinya iya. Tapi untuk memastikannya, aku ingin diperiksa oleh dokter wanita. Agar ketika memang harus dikeluarkan, bisa langsung dilakukan olehnya.” Aku mengambil keputusan. Kalau memang harus dikuret, aku tak ingin dilakukan oleh dokter laki-laki. Karena kondisi ini belum termasuk darurat medis yang bisa mendapat dispensasi.

Suamiku menyetujuinya. Akhirnya aku mencari informasi mengenai dokter wanita yang bisa aku hubungi. Alhamdulillah ada dua pilihan. Dua-duanya berada di luar wilayah kota kecilku. Namun, meskipun dokter muslimah, karena praktek nya hanya Sabtu-Minggu, aku tidak mungkin memilihnya. Jadilah aku memilih dokter di kota tetangga.

Setelah diperiksa, Dokter memang memastikan bahwa kandunganku harus dikeluarkan. Jadi, hari itu juga aku langsung disiapkan untuk melakukan operasi kurretase. Operasi berjalan lancar selama setengah jam. Namun, karena dibius total, agak lama juga aku tersadar dan bisa diajak berkomunikasi.

Setelah sadar, aku dan suami hanya saling bergenggaman tangan berbagi kekuatan. Peristiwa ini memang menghancurkan hati kami. Tapi kami sadar, bahwa semuanya tetap merupakan kehendak Sang Maha Kuasa. Mungkin memang belum rezeki kami, mendapat amanah lagi. Tapi, kami akan tetap berusaha. Karena tugas manusia memang hanya berencana dan berupaya. Tuhan lah yang menentukan hasilnya. Tapi harapan itu akan tetap ada, selama kami percaya padaNya.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.