FIFTH CHALLENGE : LOUD VOICE, FUSSY AND TOO CURIOUSITY

FIFTH CHALLENGE : LOUD VOICE, FUSSY AND TOO CURIOUSITY

 

Membaca tema tantangan hari kelima, sebenarnya saya ingin protes, karena menggunakan kata ‘keanehan’. Padahal akan lebih baik bila memakai kata ‘keunikan’. Terasa lebih manusiawi… Tapi, sudahlah. Tugas saya kali ini hanya menulis saja, bukan malah mengomentari tema… 😊

Sekali lagi, saya tidak merasa bahwa yang saya ceritakan ini adalah keanehan, melainkan kekhasan saya yang berbeda dengan orang lain. Bisa jadi mengganggu untuk beberapa orang, tetapi terkadang dapat diterima oleh beberapa yang lainnya. Begitu. Tetapi, meskipun mengganggu untuk beberapa orang, saya pikir ini bukan sifat buruk yang memang harus dihilangkan. Jadi, tak akan saya ubah sampai kapan pun. Saya sudah menerimanya sebagai bagian dari pribadi saya. Kalaupun mengganggu, itu masalah mereka, bukan masalah saya.

 

Loud Voice (Suara Keras)

 

Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan budaya betawi yang memang terbiasa berbicara dengan suara keras. Bukan intonasi tinggi karena emosi, tetapi, semata-mata memang volume suaranya yang tinggi. Mungkin suara seperti ini hampir sama dengan yang terdapat pada budaya Batak.

Konon ada ceritanya kenapa dalam budaya Betawi punya suara keras seperti ini. Katanya, dulu saat masyarakat Betawi masih sedikit, rumah mereka berjauhan karena punya tanah yang luas. Jadi, ketika butuh sesuatu dari tetangga sebelah, mereka memintanya dengan berteriak. Begitu juga saat berbicara meminta sesuatu kepada orangΒ satu rumah. Meskipun yang satu di depan dan yang lainnya di belakang, tak ada satu pun yang akan melakukannya dengan mendekati mitra bicaranya, melainkan dengan cara meneriakkan permintaannya. Hehehe… Entah benar atau tidak, namanya juga cerita…

Kembali lagi ke suara keras ini, saya terbiasa dididik dengan pemikiran bahwa seperti inilah khas budaya keluarga​ saya. Memang suaranya keras dan rame. Jadi, hal ini tidak membuat saya rendah diri. Dan, meskipun keluarga ayah berasal dari etnis Jawa yang cenderung lebih halus, tetap tidak bisa merubah kerasnya suara saya. Lagipula, ayah saya pun tidak pernah merasa terganggu.

Sayangnya, ternyata tidak semua orang welcome dengan kekhasan ini. Buat mereka, suara keras saya norak dan menyakitkan telinga. Padahal meskipun keras, saya yakin suara saya tidak akan sampai memecahkan gendang telinganya. Tapi, begitulah. Apapun, tentu saja selalu ada yang pro dan kontra. Dan meskipun suara keras ini sudah seperti trade mark saya, yang membuat banyak orang merasa kehilangan ketika tidak mendengarnya. Saya tetap harus menyikapi dengan bijak, terhadap orang yang menolaknya. Jadi, bukan dengan memelankan suara saya, tetapi hanya berusaha membatasi komunikasi dengan orang-orang seperti ini.

 

Fussy (Cerewet)

 

Sebenarnya kalau berbicara tentang cerewet, ini adalah sifat yang dimiliki mayoritas kaum perempuan. Dan kalau dibilang mengganggu, itu pun situasional dan personal. Artinya tetap saja ada yang merasa terganggu berhadapan dengan orang cerewet, ada pula yang tidak. Begitu pun dengan saya.

Bisa dibilang, cerewetnya saya memang karena keturunan dan budaya. Kembali lagi ke budaya Betawi yang rame, hampir semua keluarga saya, baik laki-laki maupun perempuan, cerewet – artinya banyak bicara. Dan ini, tidak masalah dalam keluarga besar saya, pun bagi keluarga saya yang bercampur dengan budaya Jawa. Bagi kami, itulah tanda keakraban dan kekeluargaan.

Tetapi, sekali lagi tidak semua orang bisa menerima kecerewetan ini, terutama bagi mereka yang sifat utamanya pendiam. Memang, sepertinya tidak nyaman untuk mereka yang terbiasa membatasi percakapan, ketika berhadapan dengan saya yang banyak bicara. Mungkin jika pembicaraan hanya berkisar pada pertukaran informasi biasa, tidak akan mengganggu. Namun, jika perbincangan juga melibatkan banyak pertanyaan yang harus banyak mereka jawab, pasti tidak akan mengenakkan. Jadi, akhirnya saya sendiri yang berusaha menempatkan diri, sesuai dengan tipe mereka yang saya ajak bicara, agar kekhasan saya tidak menyebabkan malapetaka… πŸ˜ƒ

 

Too Curiosity (terlalu ingin tahu)

 

Keingintahuanan sesungguhnya adalah suatu kebaikan. Karena, bila seseorang sama sekali tidak punya rasa ingin tahu, maka dia tak akan pernah belajar, juga tidak akan dapan mencapai sesuatu. Namun, terlalu ingin tahu, juga bukan sesuatu yang bisa dianggap wajar.

Meskipun keingintahuan saya, masih dalam batas wajar ukuran saya, tetapi untuk banyak orang mungkin berbeda. Apalagi, jika hampir di setiap situasi yang saya hadapi, saya cenderung selalu meminta informasi, tentu dianggap terlalu ingin tahu.

Akhirnya, dalam beberapa kondisi,, saya harus sadar diri. Artinya, meskipun keingintahuan menggelitik pikiran saya. Saya akan berusaha meredamnya dan hanya diam mendengarkan setiap pembicaraan. Itulah satu-satunya solusi, agar keingintahuan saya tidak dianggap berlebihan.

 

Hmmm… Itulah beberapa kekhasan yang sebenarnya sudah jadi bagian tak terpisahkan dari kepribadian saya. Tetapi, ternyata mengganggu beberapa orang dari lingkungan saya. Dan akhirnya, saya memang harus bijak menempatkan diri, agar kehadiran saya tidak malah menjadi sesuatu yang akan dihindari.

 

 

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.