Cinta Lama Belum Kelar

Cinta Lama Belum Kelar

Berhati-hatilah terhadap perjumpaan kembali

dengan orang yang pernah dekat dengan kita,

karena ia bisa menjelma menjadi durjana penggoda

kesetiaan terhadap pasangan kita.

∼ Alifadha Pradana ∼

 

Judul di atas sebenarnya merupakan plesetan dari Cinta Lama Bersemi Kembali. Tetapi saya tidak ingin melegitimasi istilah itu. Istilah yang muncul akibat maraknya acara-acara reuni sejak beberapa waktu terakhir ini. Dan sebenarnya, ini juga bukan cerita saya. Kisah ini merupakan curhatan tidak langsung dari seorang supir, saat saya menumpang angkotnya. Cerita yang membuat saya sendiri bergidik ngeri mendengarnya, betapa dahsyat ternyata racun CLBK ini.

Sudah hampir 3,5 tahun ini memang, saya menggunakan angkutan kota untuk mencapai berbagai tujuan aktivitas. Sejak kecelakaan yang menanggalkan beberapa gigi dan membuat suami agak trauma, menyebabkan beliau tidak lagi mengziinkan saya mengendarai motor sebagai alat transportasi sehari-hari. Jadi, begitu lah. Saya akhirnya selalu menumpang angkot pergi dan pulang kantor, juga untuk tujuan ke mana pun di dalam kota.

Tapi ada yang saya syukuri dari aktivitas naik turun angkot ini. Teman saya bertambah. Saya jadi punya kesempatan untuk berbuat baik dengan membayari ongkos teman. Memberi kesempatan orang lain untuk berbuat baik dengan membayari ongkos saya… 🙂 Juga mendapat curhatan cerita pribadi, baik dari sang supir – seperti kisah kali ini. Dan kadang-kadang juga dari penumpang. Yang jelas, semua cerita  memperkaya gudang ide saya dan meningkatkan pengalaman tanpa saya harus mengalaminya.

Bay de wey… sepertinya saya tidak usah berpanjang lebar menuliskan pendahuluan, langsung ke isi cerita aja, ya. Dan sebenarnya juga, obrolan ini dalam Bahasa Sunda. Tapi berhubung saya tidak familiar menuliskan percakapan dalam bahasa aslinya, ceritanya berdasarkan pemahaman saya aja, ya? 🙂

 

Hasil gambar untuk angkot majalengka

 

Curhatan ini bermula dari pembicaraan supir di samping saya kepada temannya yang duduk di belakang (saya memang lebih suka naik di samping supir, jika memang kosong. Jadi berasa naik mobil pribadi, soalnya,… 🙂 ).

“Kalo misalnya ketemu ama laki-laki itu, pengen aku dorong biar jatuh ke aspal? Sang Supir mengawali ceritanya, “Masalah selanjutnya, gimana nanti aja!” lanjutnya dengan gemas.

“Emang gimana, gitu?”

“Istriku selingkuh ama bekas pacarnya dulu. Makanya kalo ketemu laki-laki itu, mau aku ganyang aja…! Lanjutnya lagi dengan gemas.

“Emang ketemu di mana?” tanya temannya

“Ga tau. Mungkin di acara reuni.”

“Jadi, istrimu juga ngeladenin?”

“Iya, makanya kesal banget. Pokoknya kalo ketemu itu cowok, aku tabrak aja sekalian.”

“Sewa orang aja buat nyari. Nanti kalo ketemu, baru diurus.” temannya menyarankan.

“Iya lah. Aku cari dulu fotonya, nanti aku kirim.”

“Siap. Ditunggu kabarnya.” Akhirnya temannya pamit.

Jadi, obrolan selesai sampai di situ. Tadinya saya kira, cerita juga selesai. Namun, beberapa saat kemudian supir angkot tadi berbicara pada saya,

“Sebenarnya, Saya ga pernah macam-macam, Bu. Setiap hasil narik, saya serahkan semua kepada istri. Paling saya cuma minta buat rokok aja, ga lebih. Tapi ga tau, kok istri bisa kayak gitu.” ternyata mang supir curhat juga ke saya. Mungkin karena melihat saya agak ikut mendengarkan obrolan dia tadi.

“Emang, istri kerja juga, Mang?” saya bertanya hati-hati.

“Ngga. Makanya saya juga bingung. Padahal laki-laki itu juga cuma tukang ojek.”

“Trus, nyari apa, ya…?”

‘”Ga tau lah, Bu. Sekarang saya nitipin uang buat anak-anak ama bibi saya. Saya udah pesan ke Bibi, pokoknya kalo istri saya minta, jangan dikasih.”

“Lho emangnya udah ga pernah ketemu lagi, ama istri?” akhirnya saya jadi ingin tahu…

“Saya udah ga pernah tidur di rumah lagi Bu. Berasa muak aja, kalo ngeliat istri. Tapi kebutuhan anak tetap saya penuhi. Saya titip ke bibi, uang buat anak-anak.”

“Ya udah, Mang. Sabar aja. Inshaa Allah semua ada balasannya. Kalaupun Mamang ngga membalas, pasti tetap ada karmanya. Yang sabar aja, ya Mang…?” Saya mengakhiri curhatan supir angkot tadi, karena sudah sampai di tujuan.

Tetapi setelahnya, saya agak merenungkan cerita tadi. Jadi teringat lagi cerita-cerita CLBK dari teman. Juga yang saya baca di internet. Bahwa ternyata efek CLBK terjadi hampir di semua lapisan. Tidak hanya kaum terpelajar, tetapi juga di level supir angkot, yang termasuk lapisan menengah ke bawah. Dan yang saya tangkap dari cerita tadi, meskipun suaminya yang supir angkot termasuk sabar, tetap saja sakit hati bila sudah nyata-nyata melihat istrinya CLBK-an, dan sanggup mengambil tindakan ekstreem sehubungan dengan kasus yang menimpanya.

Curhatan mendadak supir angkot tadi juga untuk mengingatkan kepada semua pasangan, agar berhati-hati terhadap kehadiran orang ketiga. Baik dari sisi istri, maupun suami. Kalau pun sang mantan sekarang, memang tampak begitu menakjubkan, ingat-ingat lagi tujuan pernikahan kita di awal. Juga nasib anak-anak, jika kita menurutkan hawa nafsu dan merusak pernikahan.

Membahas tentang CLBK memang hanya satu yang bisa menjadi penentunya, adalah iman di dada sebagai pengendali perbuatan manusia. Semoga tak hilang juga tergerus pergaulan dan interaksi kehidupan…

Memang benar sekali firman Allah SWT yang harus lebih sering kita renungkan, agar tidak selalu mengikuti hawa nafsu… “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

 

#BeInspiringWriter

#BeAMoreWisePerson

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.