Menemukan Mood Booster Menulisku

Menemukan Mood Booster Menulisku

 

I act like I’m always in a good mood when I’m not, but it’s my job.

Michael Waltrip

Bermula dari Honor

 

Dulu sekali saat usia Sekolah Dasar, aku pernah membuat dua atau tiga buah tulisan humor yang kemudian dikirim ke majalah “Kuncung” dan dimuat. (mereka yang lahir setelah tahun 80-an pasti tidak tahu majalah ini 😂). Imbalannya waktu itu, aku mendapat kiriman 3 buah weselpos (ini pun tak ada yang pernah tahu bentuknya selain mereka yang seumuranku 😃) dua wesel senilai seribu rupiah dan yang selembarnya bernilai dua ribu.

Hahaha … kecil sekali, ya? Memang benar. Untuk sekarang nilai segitu, bukan kecil lagi, bahkan, ngga ada nilainya. Soalnya kita masuk toilet umum saja, harus membayar dua ribu, kan? Tetapi, di tahun 70-an nilai itu setara dua bulan uang jajanku. Lho, masa? Iya, nilai dua bulan uang saku itu besar sekali kan? Apalagi dikasih orang, tentu berjuta-juta rasanya.

Itulah euforia pertama yang aku rasakan, yang membuatku semangat menulis. Tetapi, rupanya hanya sampai segitu saja hasil dari menulis. Setelah berkali-kali menulis lagi dan mengirimkannya ke media, dan tak ada satu pun yang dimuat lagi, aku menjadi patah hati dan berhenti menulis.

Ketika beranjak remaja dan berlangganan majalah “Anita Cemerlang” keinginan menulis, muncul lagi. Euforia diamuat dan mendapat honor masih membayangi dan menyemangatiku menulis lagi. Tetapi setelah berkali-kali mendapat surat balasan penolakan, aku menjadi pundung dan patah semangat.

Akhirnya aktivitas menulis yang aku lakukan, hanya menulis diary dan puisi receh yang dikonsumsi sendiri. Tidak pernah lagi ada keinginan mengirim ke media, akibat berkali-kali mendapat penolakan.

 

Tuntutan Tugas

 

Saat diangkat menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara) dan disibukkan dengan berbagai tugas, aku mulai berhenti menulis diary dan puisi receh seperti dulu. Saat itulah aku mulai mengenal aktivitas menulis yang berbeda lagi, yaitu tulisan teknis. (Hehehe … ini definisi aku sendiri, yah)

bertugas di ranah kesehatan yang tugas kesehariannya adalah mengelola program kesehatan, aku melakukan  aktivitas menulis berupa rencana kegiatan program dan laporan hasil pelaksanaannya. Juga pedoman dan petunjuk teknis pengerjaan program kesehatannya. Memang benar-benar teknis dan menggunakan bahasa teknis, karena hanya untuk memenuhi tuntutan tugas.

Rupanya, memang hanya sebegitu, rangkaian aktivitas menulis yang aku lakukan di masa itu,  yaitu dalam rangka memenuhi tuntutan tugas. Sehingga jenis tulisannya pun, seputar bahasan mengenai program kesehatan. Tidak terlalu menarik untuk diceritakan, walaupun beberapa kali, pernah ada yang memberikan imbalan karena aku membuatkan laporan serupa, untuk beberapa teman.

Namun, poinnya adalah, aku menjadi tahu selain tulisan fiksi ternyata masih banyak jenis tulisan lain yang bisa dihasilkan dan ada peluang penghasilan tambahan pula (waktu itu belum tahu kalau sebutannya ghost writer). Tetapi, ini menjadi rangkaian perjalananku dalam menulis juga.

 

Mood Booster Menulisku

 

Sebelum-sebelumnya aku tak pernah mengetahui istilah ini. Jadi, tentu saja tidak pernah tahu bahwa dalam menulis pun ada mood booster nya, yaitu sesuatu yang membuat semangat menulis tetap terjaga. Dan ternyata ada banyak sekali jenisnya.

Setelah rutin menulis laporan, surat-menyurat dalam rangka tugas dan tulisan-tulisan teknis lainnya, aku mulai menemukan keasyikan dalam melakukan semua aktivitas itu — aktivitas menulis maksudnya. Jadi, aku kemudian mencari tahu cara melakukannya dengan lebih baik. Itulah fase aku mulai mengikuti beberapa workshop atau pelatihan kepenulisan, yang salah satunya diselenggarakan oleh Pasangan penulis Asma Nadia dan Isa Alamsah. Juga fase di mana aku mulai tergabung di sebuah komunitas menulis.

Hasil dari banyak pelatihan kepenulisan ini bergabung bersama para penulis, adalah terbitnya  beberapa buku antologiku, baik yang diterbitkan oleh penerbit mayor maupun penerbit indie. Bahagia pasti ada dan selalu menyertai setiap keluarnya antologi terbaru. Dan tadinya aku pikir Itu yang membuatku tetap ingin menulis dan terus melakukannya. Tetapi, ternyata bukan.

Setelah menyelesaikan buku bersama sebagai bentuk project passion di salah satu komunitas besar di Indonesia yaitu Ibu Profesional, aku menemukan alasan terkuatku dalam menulis. Yaitu untuk keabadian dengan meninggalkan karya dan bekal perjalanan panjangku setelah kematian, berupa ilmu yang bermanfaat.

Semoga semua harapan ini dikabulkan-Nya dan selalu diberi kemudahan untuk terus melakukannya.

Aamiin…

 

 

 

Tags: ,
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.