Nikmati Saja …

Nikmati Saja …

 

 

Pahit atau manisnya hidup yang dijalani, hanya tergantung dari rasa yang kita sematkan atasnya. Jadi nikmati saja dan berbahagialah.

~Alifadha Pradana~

 

Adakah yang pernah merasa bahwa nama yang disandang, dan diberikan orang tua tercinta, benar-benar memengaruhi jalan hidup kita? Saya pernah dan selalu merasa seperti itu, fan akhirnya, terpaksa mengakui kebenarannya, betapa nama adalah do’a. Sebagaimana nama yang indah dan berkonotasi kebahagiaan atau kebaikan akan membawa hal yang sama terhadap penyandangnya, begitu pula yang terjadi dengan nama yang punya arti sebaliknya.

Sayangnya, nama yang saya terima sebagai identitas saat lahir (nama asli, bukan nama pena – Pen), menurut KBBI punya arti susah hati, bersedih hati, was-was dan bimbang. Dan ternyata, memang seperti itulah jalan hidup yang saya lalui. Hampir penuh keprihatinan, meski bukan selalu berarti kesengsaraan.

Diawali dengan kondisi yang terlahir dan dibesarkan dalam keluarga poligami, tentu bisa dibayangkan bagaimana keadaannya. Kehidupan yang sangat sederhana sudah biasa saya jalani. Makan seadanya hanya nasi berlauk krupuk putih dan kecap, bahkan tidak jarang cukup dengan nasi panas bertabur garam, yang dikepal oleh nenek dan disuapkan ke mulut kami masing-masing.

Keadaan serba sederhana tadi juga membuat ibu tidak bisa leluasa memberi “uang jajan”. Saat sekolah dasar, bekal saya hanya cukup untuk jajan satu gelas minuman dan satu potong gorengan. Sementara kawan-kawan lain, senantiasa berlimpah jajanan. Bisa dibayangkan, perasaan saya waktu itu melihat semua kesenjangan yang ada di depan mata?

Ternyata, perbedaan keadaan seperti itu masih harus terus saya alami. Ketika SMP malah lebih memprihatinkan lagi, uang bekal yang diberikan ibu, hanya cukup untuk ongkos angkot pulang pergi ke sekolah saja. Sehingga bila ingin jajan, saya terpaksa jalan kaki saat pulang sekolah, menempuh perjalanan sejauh hampir 3 km selama 45 menit.

Begitu juga ketika SMA. Sepertinya bahkan lebih parah lagi. Selain hanya cukup untuk ongkos pulang pergi ke sekolah, bekal saya waktu itu sama sekali tak akan cukup untuk jajan di sana. Meskipun seandainya saya berjalan kaki ke sekolah selama satu minggu, uang yang dikumpulkan pun, tetap tidak mencukupi biaya membeli sepiring nasi goreng di sekolah.

Mungkin berlebihan, ya? Tapi, tidak, ini yang sesungguhnya terjadi. Sepertinya, memang saya yang salah memilih sekolah. Karena, setelah beberapa bulan menjadi salah satu penghuninya, SMA saya dulu ternyata dikenal sebagai sekolah kaum borjuis. Yang sebagian besar datang dari keluarga kaya dan pulang pergi sekolah dengan naik mobil pribadi. Bahkan, banyak siswanya waktu itu (termasuk di antaranya adalah teman sekelas saya sendiri), yang menjadi artis atau selebritis – sebutannya sekarang. Sementara saya, hanya orang kebanyakan yang mungkin tak ada apa-apanya dibanding mereka.

Menjadi keluarga poligami pun ternyata tidak membuat kami diperlakukan seperti keluarga kebanyakan – mungkin karena kami memang tidak seperti keluarga pada umumnya, ya. Maksud saya, tetangga kiri kanan, sering memandang ibu dengan curiga, setiap beliau pergi untuk mencari tambahan pendapatan, bila ayah sedang tidak di rumah. Apalagi, jika kemudian ibu pulang agak malam, pasti akan menjadi bahan perbincangan yang seru di antara para tetangga yang ceriwis.

Kondisi yang sama juga terjadi tiap kali ibu terpaksa menyuruh kami, mengebon dulu beberapa kebutuhan pokok sehari-hari di warung tetangga, saat beliau benar-benar tidak punya uang sama sekali – sementara kami anak-anaknya tetap butuh makan. Saat itu terjadi, beberapa tetangga yang culas, akan kembali memperbincangkan kami.

Keadaan ini sedikit banyak memang memengaruhi emosi saya sebagai anak sulung di usia belia. Ketika itu saya berkembang menjadi anak murung dan cengeng, yang mudah sekali menangis, bila merasa terganggu atau takut akan sesuatu. Juga gampang bersedih dan berburuk sangka, jika merasa teman-teman menjauhi saya karena keadaan keluarga.

Ikut mengurus keluarga, termasuk menjaga adik-adik saat ibu pergi, merupakan salah satu tanggung jawab yang biasa saya jalani. Jika ibu pulang malam, artinya saya harus berjaga sampai beliau datang. Dan itu tidak selalu mudah. Karena seumuran kami biasanya tidur sore-sore, jadi kebayang sulitnya kalau harus menahan kantuk menunggu Ibu pulang.

Kehidupan memprihatinkan juga terus saya alami hampir sepanjang usia. Ketika memilih sekolah pun, sementara adik-adik dibiarkan memilih sekolah sendiri, saya diwajibkan mengikuti perintah ayah untuk meneruskan ke SMA. Jadi ketika adik-adik bisa langsung bekerja setelah selesai sekolah, saya masih harus berjuang meneruskan pendidikan.

Walaupun bisa melanjutkan sampai perguruan tinggi, bukan berarti hidup saya menjadi lebih mudah. Selain harus bersaing untuk lolos masuk perguruan tinggi negeri, biaya hidup selama di sana, ternyata menjadi persoalan berikutnya yang harus saya selesaikan.

Dan begitulah, dengan kiriman minimalis (hanya seperempatnya saja dibanding kiriman teman-teman lain), saya kemudian melanjutkan sekolah. Prihatin? Sudah pasti. Untuk menghemat uang kiriman dari rumah, saya harus pintar-pintar mengelolanya. Akhirnya, bekerja sama dengan tiga sahabat sekos, kami patungan untuk menyiapkan makanan. Sehingga jatah uang saku saya pun hanya terpakai seperempatnya untuk biaya makan. Ngirit sekali kan? Harus. Karena hanya sejumlah itu yang tersisa setelah diambil biaya kos dan fotocopy bahan kuliah.

Lulus kuliah dan menjadi sarjana, tidak serta merta mengubah hidup saya menjadi indah. Tetap saja butuh perjuangan yang lumayan berat untuk menjalaninya. Dari susahnya mencari pekerjaan. Kemudian benturan keyakinan antara menerima pekerjaan dengan menggadaikan kewajiban berhijab. Termasuk meyakinkan orang tua, tentang prinsip terhadap mencari penghasilan.

Begitu pun setelah mendapatkan pekerjaan yang mungkin termasuk primadona, karena saya diterima di salah satu instansi pemerintah dan menjadi pegawai negeri sipil, masih saja harus melalui banyak keprihatinan. Dari hilangnya SK PNS, sampai mendapat fitnah menggelapkan uang kantor, pernah saya hadapi sebagai salah satu bentuk kepahitan hidup.

Juga ketika menemukan jodoh dan akhirnya menikah, tetap saja tidak mudah dalam menjalaninya. Karena hidup bersama seseorang yang sebelumnya sama sekali tidak dikenal, membutuhkan kompromi dan toleransi yang tinggi, yang seringkali tidak pernah terbayang di awalnya. Dari seorang yang terbiasa mandiri, memutuskan sesuatu dan bertanggung jawab atasnya sendiri. Ketika menikah, ternyata harus patuh dan mengikuti perintah suami. Merupakan perubahan teramat besar yang harus saya lakukan. Dan semuanya, sama sekali tidak mudah.

Juga ketika kehidupan saya makin berkembang, yang mungkin dilihat banyak orang sebagai sebuah keberhasilan, ternyata mengundang bentuk keprihatinan hidup yang berbeda pula. Dari gagalnya usaha yang sedang dirintis, dikhianati mitra bisnis, ditipu jutaan rupiah oleh klien, termasuk dimanfaatkan teman, merupakan tantangan kehidupan yang akhirnya terbiasa saya lalui.

Hidup saya memang tidak pernah mudah. Dan kebanyakan di antaranya, saya lalui dengan berurai air mata. Dan sampai hari ini pun, saya masih percaya bahwa semua itu karena pengaruh nama yang menyertai kelahiran saya. Namun, sekian waktu perjalanan hidup yang sudah saya lalui, meskipun berat, ternyata selalu bisa terlewati. Akhirnya, memang membuat saya bisa menerima pengaruh nama itu.

Jadi, nama saya memang masih tetap berarti susah hati, bersedih hati, was-was dan bimbang. Tetapi penerimaan saya atas maknanya, sudah jauh berubah. Saya memang tetap mengalami banyak rintangan dan keprihatinan hidup yang makin beragam, tetapi semuanya sekarang saya pahami sebagai hal yang sama – hanya merupakan tantangan berikutnya yang harus berhasil saya lewati.

Semua perubahan pemahaman ini, terjadi karena sebuah penerimaan. Meskipun harus melalui jatuh bangun dan cucuran air mata yang menyertainya, saya akhirnya benar-benar bisa menerima makna kesedihan yang menyertai nama saya. Bahwa, meskipun hidup saya memang serupa dengan arti nama saya, ketika saya bisa menerimanya dengan penuh keikhlasan, membuat cara saya memaknai hidup menjadi berubah.

Hidup saya memang masih tetap tidak mudah. Tetapi, sekarang saya bisa memaknainya secara berbeda. Semua ke-tidakmudah-an tadi hanya menjadi krayon atau pinsil warna buat lukisan kehidupan saya. Sehingga malah bisa membuat lukisan tadi penuh warna dan terlihat indah.

Akhirnya, hidup saya memang tidak pernah mudah. Mungkin hidup kamu pun juga tidak berbeda. Tetapi kita selalu bisa memaknainya dengan cara berbeda. Dengan menerima setiap ketidakmudahan tadi, perasaan kita dalam menjalaninya pun akan berbeda. Cobalah. Karena saya pun akhirnya bisa memahami bahwa pahit atau manisnya hidup yang kita jalani hanya tergantung pada rasa yang disematkan padanya. Jadi, seperti apapun jalan hidup yang kita terima, jangan membuatnya susah. Nikmati saja dan berbahagialah.

 

Tags: ,
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.