Let’s Talk about “Kualat”

Let’s Talk about “Kualat”

 

Sumber : Pixabay.com

 

Sesungguhnya kebaikan maupun kejahatan yang kita lakukan, melalui satu atau lain cara, pada saatnya akan sampai juga akibatnya pada kita.

~ Alifadha Pradana ~

 

Apa Itu Kualat?

 

“Kalo dibilangin orang tua, nurut. Kalo ngga, nanti Kualat!”

“Kamu sih, menyinggung perasaan dia, ntar kualat lho!”

Hihihi, dialog di atas hanya ilustrasi saja ya. Entah kenapa, kali ini Saya ingin menulis mengenai “kualat”. Sebab kata ini memang kerap terdengar, ketika seseorang melakukan suatu kesalahan atau kejahatan kepada orang lain. Artinya orang yang melakukan kejahatan atau keburukan kepada orang lain itu, akan menerima balasannya.

Tetapi, ketika googling mencari artikel yang membahas kualat ini, saya malah terbingung-bingung, karena tak satu pun bahasan sesuai dengan informasi yang saya cari. Kebetulan, berarti Saya akan bisa membahasnya untuk pertama kali sesuai versi saya sendiri tentunya.

Kebanyakan artikel yang saya temukan, memang membahas definisi kualat dari segi bahasa, bukan sesuai konsepnya. Padahal, boleh jadi mungkin yang dimaksud dengan kualat ini sering mampir di kehidupan kita

Menurut KBBI, kualat diartikan sebagai kena bencana (karena kurang baik kepada orang tua dan sebagainya). Ada pula yang membahasakannya sebagai hukum karma yang hanya dikenal dalam ajaran Budha dan tidak dikenal dalam ajaran Islam. Benarkah?

Padahal kalau mengamati definisi di atas yang poinnya adalah bencana akibat  bersikap atau berperilaku tidak baik, masih nyambung, ya. Sebab, meskipun bukan berarti definisinya sama dengan karma, setiap kejahatan (atau kebaikan) yang dilakukan, pasti akan mendapat balasan. Dan balasan ini, bisa saja disegerakan di dunia atau ditunda di akhirat nanti.

 

Balasan Atas Perbuatan

 

Merujuk definisi di atas bahwa Kualat adalah bencana akibat melakukan perbuatan yang tidak baik, sependek pemahaman Saya, ada dalam ajaran Islam. Sebab sebagaimana balasan perbuatan baik mendapat perlakuan cepat dan lambat, begitu juga dengan kejahatan atau keburukan.

Dalam Qur’an Surat Al-Isra ayat 7 Al-Isra ayat 7 disebutkan, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.”

Saya bukan ahli tafsir, tetapi dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir yang miliki di rumah, ayat di atas sama penafsirannya dengan Qur’an Surat Fushilat ayat 46  “Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri, dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya. 

Sebenarnya dari terjemahan dua ayat di atas dan makna kata kualat dalam KBBI, sudah jelas, ya. Bahwa bencana yang terjadi dalam definisi kualat adalah akibat perbuatan buruk yang dilakukan. Ini menurut saya berbeda dengan karma yang dalam KBBI, bermakna sebagai hukum sebab akibat dan perbuatan manusia ketika hidup di dunia.

Artinya, setiap pembuatan baik dan perbuatan buruk memang akan ditanggung sendiri oleh yang melakukannya. Namun pertanggungjawaban ini tidak semata-mata terjadi di akhirat, melainkan bisa saja kita dapatkan di dunia. Pembahasan tentang ini mungkin akan saya lakukan lain waktu, ya.

 

Salah Kaprah tentang Kualat

 

Ketika kualat dipahami sebagai bencana akibat perbuatan buruk kepada orang tua dan yang lainnya, mungkin masih termasuk dalam konteksnya. Sayangnya, terkadang ada salah kaprah pemahaman mengenai konsep kualat ini. Salah kaprah ini mungkin bisa dipahami dari beberapa ilustrasi berikut:

Saat selesai kuliah, karena bosan ditanya kapan nikah, saya pernah asal bicara, bahwa akan menikah pada “megatrend 2000” (saya lulus kuliah 1996). Dan ternyata, setelah beberapa kali gagal mendapat ta’arufan, saya memang menikah pada tahun 2000, sesuai kata-kata saya empat tahun lalu. Pada kondisi ini, ada beberapa teman yang bilang bahwa saya “kualat” karena berbicara seperti Itu sehingga dibalas sesuai kata-kata yang diucapkan.

Atau,

Ketika tercetus omongan bahwa saya enggan mempunyai suami dari luar daerah tempat tinggal saya (khususnya daerah Jawa Tengah dan sekitarnya), ternyata yang terjadi malah kebalikannya. Suami saya asli dari daerah Jawa Tengah. Pada kondisi ini pun, ada teman yang nyeletuk, bahwa saya “kualat” sehingga mendapat suami yang berkebalikan dari keinginan.

Nah, dua ilustrasi di atas adalah contoh salah kaprah pemakaian istilah “kualat” yang mungkin masih kerap terjadi di lingkungan Kita. Sebab, dalam cerita di atas, saya tidak melakukan perbuatan buruk (atau baik) yang harus dibalas. Kalaupun mau dikomentari adalah kekurangtepatan kalimat yang saya ucapkan sebagai jawaban atas pertanyaan. Seharusnya saya menjawab dengan kata-kata pengharapan yang lebih baik. Karena seringkali, kata-kata atau ucapan yang keluar dari lisan kita adalah doa dan harapan, yang akan diijabah oleh Allah SWT.

Wallahua’lam bissawab.

 

 

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.