Meluaskan Manfaat di Rumah Baca

Meluaskan Manfaat di Rumah Baca

 

 

Mengenal Rumah Baca Asmanadia (RBA)

 

Pertama kali mendengar tentang Rumah Baca Asmanadia adalah ketika mengikuti workshop penulisan fiksi dan nonfiksi yang diselenggarakan Mba Asma dan Mas Isa hampir sembilan tahun lalu. Yang sayangnya hanya beberapa bulan setelah kepergian putera pertama tercinta.

Saat itulah Mas Agung Pribadi yang tahu bahwa saya berasal dari Majalengka, menceritakan bahwa ada tiga RBA yang ada di tempat tinggal saya 12 tahun terakhir ini. Mengagumkqn ya, sok seorang penulis terkenal bisa merambah ke daerah yang jauh, untuk berbagi manfaat tentang literasi.

Waktu itu — di tahun 2012 — memang masih ada tiga RBA yang terletak di Bantarujeg, Ligung dan yang terbaru di Leuwiseeng Panyingkiran. Dua lokasi terakhir sangat dekat buat saya, Ligung — tepatnya Puskesmas Ligung — adalah tempat bertugas. Sedangkan Leuwiseeng — satu kecamatan dengan tempat tinggal saya bersama keluarga tercinta.

Senang sekali menerima informasi menarik tentang RBA di lingkungan tempat tinggal saya. Bisa dibilang, saat itu langsung bertekad untuk bergabung dan membantu mengembangkan RBA di dua tempat itu. Apalagi kemudian tahu bahwa Mba Asma bersungguh-sungguh memberikan  perhatian penuh untuk mengembangkan Literasi melalui banyak RBA yang tersebat di seluruh nusantara. Jadi kenapa tidak, saya dengan senang hati akan bersedia membantu

 

Cek RBA di https://rumahbacaasmanadia.org/2018/03/17/profil-rumah-baca-asma-nadia/

 

Mencoba Membantu di RBA Ligung

 

Tidak berlama-lama, di pekan pertama menyelesaikan workshop penulisan, suatu hari di saat jam kerja, Saya pamit kepada atasan, kemudian mencari lokasi RBA Ligung.

Pengurusnya — A Dani — yang sampai sekarang menjadi sahabat saya, memberikan ancar-ancar lokasinya. Ternyata letaknya sangat dekat dengan tempat kerja, sehingga tidak butuh waktu lama, saya berhasil menemukan RBA Ligung.

Dengan bangunan sederhana yang didirikan sendiri, RBA Ligung menjadi wadah para pegiat Literasi di lingkungan sekitar. Selain menyediakan buku bacaan yang baik, banyak hal yang bisa dilakukan di sana. Belajar komputer, Belajar Bahasa Inggris, Bahasa Arab, ngaji dan kasih banyak kegiatan lainnya. Juga aktivitas bakti sosial Mengumpulkan donasi untuk yang tidak mampu.

Salah satu kegiatan yang membuat saya mengapresiasi dengan dua Jempol, yaitu ketika RBA Ligung mengumpulkan pakaian layak pakai yang kemudian disortir dan diperbaiki. Selanjutnya pakaian-pakaian tadi dicuci dan disetrika rapi untuk dijual kembali dengan harga sangat terjangkau untuk kalangan tidak mampu. Uang yang berhasil dikumpulkan, digunakan untuk menunjang kegiatan di RBA.

Sekarang, karena sudah pindah lokasi tugas, saya hanya bisa mendonasikan buku-buku antologi karya sendiri dan buku lain yang memang saya beli khusus untuk donasi RBA.

 

Berkegiatan Bersama di RBA Leuwiseeng

 

Informasi pasti mengenai keberadaan RBA Leuwiseeng dan kontak pengurusnya, malah saya dapatkan dari A Dani — pengurus RBA Ligung. Padahal rumah saya dan RBA tidak sampai setengah jam perjalanan naik motor, kenapa saya tidak pernah mendengar tentang RBA ini, ya. Alasannya mungkin karena kurang sosialisasi.

Karena dekat dari rumah dan mendapat izin suami, saya bersedia menjadi Tim pengurus di sana. Karena menggunakan alamat madrasah, kami merencanakan beberapa kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap pekan. Ada belajar keterampilan, bahasa Arab, Bahasa Inggris, ngaji bareng juga acara jalan-jalan.

Pernah juga kami menyelenggarakan dongeng dan ceramah agama saat memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Kapan-kapan dokumentasi kegiatannya akan saya tambahkan di sini, deh.

Beberapa kali saya bertemu dan berkegiatan Bersama langsung dengan Mba Asma di RBA Leuwiseeng ini. Komitmen beliau memang tinggi untuk memajukan RBA yang memang digagas beliau sendiri.

Setiap tahun, Tim Pusat bergiliran mengirimkan buku-buku untuk semua RBA, termasuk RBA Ligung dan Leuwiseeng. Dan Itu Sungguh membuat kegiatan di RBA makin mengasikkan.

 

Sumber: Pixabay.com

 

 

Meluaskan Manfaat melalui RBA

 

Begitulah. Meskipun hanya kadang-kadang saja saya bisa mengunjungi RBA Leuwiseeng — tidak bisa rutin setiap pekan, saya tetap menjadi Tim Pembina RBA Leuwiseeng. Namun, setelah meninggalnya seorang pengurus aktif RBA Leuwiseeng karena stroke, kami berencana menyusun kembali tim pengurus dan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan.

Yup, wadah kegiatan bisa dalam bentuk apa saja. Tinggal kita memanfaatkan peluang untuk menggali potensi diri sendiri dan meluaskan manfaat buat umat. Semoga apa yang sedang kami upayakan bermanfaat, dan membawa kebaikan buat banyak orang.

Aamiin…

 

 

 

Tags: ,
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.